Pages

Cerita pendek | Lawan takut dan Terima Takdirmu!

 "Lawan rasa takutmu!" 

setengah gusar suamiku berbicara sambil tetap fokus di balik kemudi. Aiman anak kami, terlelap di kursi belakang. 

Dan Aku masih terisak.

Empat hari ini sungguh sangat menguras emosi dan energi kami. Belum lagi kondisi ku yang tengah mengandung (lagi) anak kami. Emesis yang cukup parah walaupun sudah memasuki trimester kedua. Aku mengandung bayi kembar. 

Ibuku sedang sakit. selama ini beliau memiliki diabetes tapi ini pertama kali beliau harus rawat inap dan ICU. 

Aku takut, kalau aku harus kehilangan wanita yang melahirkanku itu. Aku takut aku akan kembali kehilangan. Setelah Ayahku enam tahun lalu dan kakakku kurang lebih sepuluh bulan yang lalu. Aku takut menerima takdir kalau Ibuku akan juga meninggalkanku.

Sekarang Ibuku sakit parah. kritis. Tadi pagi keputusan besar harus kami ambil, melepas semua tindakan medis. Membatalkan keputusan untuk mengamputasi, sebelah kaki Ibu. 

Emosiku bergejolak. Rasanya aku sangat marah. Marah entahlah. kepada diriku mungkin? yang tidak bisa merawat beliau, ya kondisi mengandung bayi kembar ini memang tidak mudah buatku. Sehingga harus ku ikhlaskan Ibu tinggal sementara dengan kakakku.

Marah kepada kakakku mungkin? yang menurutku tidak banyak meluangkan waktu untuk Ibu. yang menurutku melongggarkan aturan makanan bagi penderita diabetes.

Marah kepada Tuhan mungkin? Sungguh jangan Ambil ibuku, bagaimana aku akan bisa menyambut kehadiran bayi-bayi kami. Bagaimana aku mampu merawat bayi-bayi kami tanpa pengawasan Ibu. Seperti ketika Aiman kecil, Ibu menunjukan bagaimana menjadi seorang Ibu. Bagaimana merawat bayi merah. Selalu menunjukan bagaimana itu Kasih.

"Kalau Emak meninggal, Aku sendirian! tidak ada siapapun". Kataku masih terus terisak.

"Kamu masih punya aku, suamimu! Aiman dan bayi-bayi yang sedang kamu kandung". Suaranya mulai terdengar menenangkan.

"Kalau Allah ambil emak dari kita. Itu takdir. Artinya tugas Emak di dunia sudah selesai. Tugasmu berbakti pada Emak sudah selesai. Ingat tugas mu sebagai istri dan Ibu, masih berjalan. Itu masih menjadi tanggungjawabmu. Kita doakan Emak". 

Perlahan Aku mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut suamiku. 

Sungguhpun ketika semua sudah waktunya Allah meminta, dengan cara bagaimanapun akan kembali kepadaNya. Astagfirullah, ya Allah temani aku, kuatkan aku. Bisikku dalam hati.



***

Mobil melaju menuju pulang, Suamiku memutuskan, bahwa aku beristirahat dulu di rumah. setelah 3 malam berturut kami menginap di mobil.

Iya! di mobil. Aiman tidak boleh masuk ke ruangan perawatan Ibu, dan Aku harus bergantian dengan kakakku bolak balik Ke ruangan perawatan menjaga Ibu. Bergantian (juga) dengan suami menemani Aiman yang masih balita. Tetap berada di lingkungan seputar Rumah sakit atau tidur di dalam mobil. kami hanya pulang untuk sekadar mandi dan mengambil pakaian ganti.

***

Sore, ku dirikan shalat ashar dengan penuh tangis. Entahlah, sungguh ikhlas itu sulit. Shalat kali ini sungguh terasa panjang. 

Kontemplasi! Aku serahkan hidupku dan matiku kepadaMu.

***

Seperti hal yang kubisikan di telinga Emak sebelum aku pulang. Kalau Aku ikhlaskan Emak pada Allah. Aku akan panggil bayi-bayi kembar nanti dengan panggilan "teteh dan dede", sesuai dengan pesan Ibu walaupun akupun belum tau jenis kelamin bayi-bayi ku. 

Kelak, Aku akan ceritakan pada mereka kelak, bahwa mereka memiliki seorang nenek yang sangat sabar dan pandai memasak. 

Air mataku tumpah. Tuhan! tolong temani aku ya. Tolong bimbing aku untuk ikhlas. Karena kutau semua yang berasal dariMu akan kembali kepadaMu.


***

Telepon berdering dari kakakku, mengabarkan untuk segera ke Rumah sakit. menyusul telpon dari Pamanku, bibiku, sepupuku. Menanyakan akan dimakamkan dimana Ibu. What the F*ck!

Ibuku memang kritis, tapi kutinggalkan tadi Ibu masih bernafas. Tadi setelah kubisikan kata-kata kalau aku ikhlas. Ada respon berupa Air mata di ujung mata beliau.

sungguh tega menanyakan Ibu akan di makamkan dimana, pikirku.

Bergegas Aku, suamiku dan Aiman menuju ke Rumah sakit berstandar internasional di kawasan Kebon Jati Bandung. Pikiranku berkecamuk, tapi lebih baik dari pada siang tadi. 

Aku disambut dengan pelukan dari kakakku. Kalau kami sudah yatim piatu. 

Ya Allah 😥!

Sebentar kuluapkan tangisku. Bergegas kami membagi tugas, membereskan administrasi rumah sakit. Dan membawa Emak kembali, di sebelah makam Bapak.

***

Manusia punya kehendak tapi tak kuasa. DIA punya kehendak dan Maha Kuasa. Aku ikhlas menerima takdirku, yatim piatu. Semoga Allah kuatkan langkahku.

Kutunaikan baktiku memandikan Ibu untuk terakhir kali dan kuantar keranda yang mengusung jasad Ibu, menuju ke tempat kembali pada sang khaliq. Kali ini tanpa air mata.

Teriring doa untukmu, Mak. Allahumma firlahu warhamhu wa'afihi wafuanhu.

Mansu Kids

4 komentar:

  1. Ya Allah, jadi inget ibuk di rumah :(

    Bagus ceritanya kak, sedihnya dapet :) Ditunggu cerita lainnya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai kak..
      terimakasih sudah berkunjung yaa

      Hapus
  2. Kak, turut berduka cita ya 🙏 Ibu kakak sudah sembuh dan tidak merasakan sakit lagi.

    Sehat selalu untuk kakak dan baby yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin.
      hai ka terimakasih sudah berkunjung yaa

      Hapus