Pages

Aku dan sekolah kehidupan

Ini tantangan dari komunitas #satuminggusatucerita terasaa sulit buat saya. Pasalnya temanya adalah..Aku dan sekolahku *sambil mikir mau nulis apalagi abis ini :p.

Cerita sekolah dari Sekolah Dasar - Sekolah Menengah Umum semester awal, dari nama yg dipakai, bisa yaa mengira-ngira usia saya #tsaaah, sampai usia 17tahun saya habiskan di Jambi. Provinsi yang sekarang terkenal karena kegantengan Gubernurnya yang (mantan) artis.

Tentang Saya dan Sekolah

SDN 140/IV Jambi Timur, SMP Negeri 10 jambi, SMUN 3 Jambi dan SMUN 1 Cilimus Kuningan. Pas SMA kelas 3, Semester awal menjelang ujian semester pertama saya pindah ke Kuningan Jawa Barat. Kebayang ya, disaat orang lain sudah asyik dengan genk gaul, saya yang tidak terlalu pandai bergaul harus memulai beradaptasi dan sosialisasi.

Saya mungkin terhitung anak "baik-baik" yang anak rumahan banget. Pergi sekolah dan pulang ke rumah kemudian seharian dirumah. Membosankan!

SD saya (selalu) Rangking 1 dari kelas 2-6, membosankan (lagi), juara dokter kecil. SMP saya (hampir) selalu juara Umum sekolah dan ketua Osis. Dan (selalu) diikutkan lomba puisi, yah baru di SMP saya tau, menulis dan bercerita ternyata membuat mata saya berbinar-binar. Membuat aura saya keluar Aura-auran *iya-in aja biar cepet :p.

Kesukaan dengan puisi dan teman-temanya berlanjut sampai saya SMA. Pembahasan tentang SMA saya tulis dengan sub sendiri ;)

Perjalanan SMA
Prestasi saya di SMA tidak se-gemilang seperti SMP. Cukuplah bertahan di posisi 10 besar, dan mulai menurun di caturwulan ke 2  kelas 2. Masa pencarian jatidiri, masa-masa labil. Saya merasa, kemampuan rata-rata saja, tidak ada yang bisa dibanggakan. Nilai-nilai saya tidak buruk, nilai IPA dan IPS saya (nyaris) seimbang, dan wali kelas (ketika itu) menyarankan masuk IPA saja. Masih sampai sekarang bingung kenapa meng-iya-kan.

Bukan tidak ada usaha dari saya, untuk mendatangai pihak bimbingan konseling. Dan mengumpulkan beberapa teman yang "malas" dengan rumus-rumus di IPA dan "alergi" dengan Hafalan di IPS. Tujuannya mengusulkan untuk kelas program bahasa di angkatan kami dan kami selamat dari IPA atau IPS.

Sejujurnya masuk SMA favorit dan "terjebak" masuk di kelas IPA membuat saya agak frustasi. Pulang menjelang sore dan dijejali PR matematika yang seabrek. Menjadikan hidup saya tertekan dengan PR-PR itu, saya ga tau itu secara konkrit gunanya apa buat hidup saya.

Tergabung dalam sekumpulan wartawan remaja, di salah satu koran di jambi, penyaluran menulis yang membahagiakan saya. Sempat dikucilkan dari pergaulan teman-teman. Gegara kesukaan ini membuat saya jadi jarang gabung bersama mereka. Haha, kaya disinetron gitu deh, disindir-sindir tapi tanpa kekerasan fisik. Dan cukup (membuat) saya (makin) stres.

Ga sampai lulus saya di SMAN 3, kemudian ikut orangtua pindah ke kuningan. Di SMA 1 cilimus ini teman saya sedikit, karena seminggu saya masuk, sudah ujian semester. Dan disini saya masuk 5 besar. Tidak banyak cerita di SMA ini.

Perjalanan Kuliah
Pas kuliah saya masih ingin masuk Sastra Indonesia, keluarga saya lebih menginginkan saya masuk jurusan lain dengan alasan menulis dan lain-lain terkait dengan itu bisa didapat tidak harus dari kuliah. Masuklah saya di Pertanian Universitas Padjadjaran.

Di kampus, jodoh tidak menuntun saya meneruskan kegemaran saya tersebut. Saya "melarikan" pada mengikuti lomba-lomba karya ilmiah.

Dan kemudian bekerja pada bidang yang berbeda dari, mengerjakan neraca dan supervisi kinerja front liner. Kebanyakan mengeluh, karena saya (hampir) tidak pernah melihat matahari bersinar ketika pulang kerja. Tapi saya harus bertahan karena saya menjadi tulang punggung keluarga.

Perjalanan Kehidupan
Berdoa semoga jodoh terbaik datang menjemput saya, berdoa untuk bisa resign dari kerjaan tanpa membuat ibu saya bersedih. Ketika itu karir saya sedang cemerlang, Alloh kabulkan!

Saya menikah dan Akang minta ijin buat resign, dan Ibu pun mengijinkan.
Akhirnya saya masih sekolah sampai saat ini. Sekolah kehidupan untuk Belajar menjadi Istri untuk Iman Rasidi dan menjadi Ibu buat Muhammad Alfath Idlan.

Stay At Home Mommy
Saya Ibu Rumah Tangga, i love it!
Sekolah kehidupan saya membuat saya belajar banyak.

Saya belajar hidup dari kisah hidup Akang, yang sedihnya lebih dari cerita telenovela, *cielaaa. Dan saya belajar bagaimana selalu bersyukur setiap nikmat.

Belajar dan berupaya membuka rezeki dari simpul perdagangan. Tentu saja saya banyak belajar dari Akang, tentang bisnis. Berusaha (saling) menumbuhkan kesukaan kami masing-masing.

Bagaimana caranya multitasking bisnis dan keluarga. Banyak pelajaran kehidupan semenjak saya menjalani usaha, bisnis tidak hanya melulu soal profit tapi bagaimana profit ini bisa menjadi benefit. Bagaimana membina relasi dan berkomunikasi 3 lapis, supaya berkah dunia ahirat. Bagaimana caranya memaafkan mereka yang "peduli" dengan hidup saya "sarjana, cumlaude kok cuma di rumah" *glek.

Saya Masih Belajar ~~

Bagaimana caranya menjadi sabar, untuk idlan. Memberi teladan yang baik dan mempertanggungjawabkan amanah Alloh ini di hari akhir (nanti). Mendampingi anak-anak untuk sukses dan bahagia menjalankan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi.

31 tahun hidup saya, fokus saya, belajar mendampingi dan mendukung Akang. Mendidik dan merawat idlan dan adik-adiknya (nanti). Semoga diberikan anak-anak soleh, supaya (kelak) ketika kami (saya-Akang) sudah tidak didunia, nama kami ada didalam doa mereka, dan memudahkan langkah kami di kehidupan yang sesungguhnya nanti.

Iya saya masih sekolah, semua fase "sekolah" yang pada akhirnya membentuk saya hari ini. Membuat saya semakin percaya, kalau Alloh tidak memberikan yang saya inginkan tapi yang saya butuhkan. :')

Semoga Alloh mampukan, aamiin Allohumma Aamiin.
Ini cerita Ambu, karena setiap ibu punya cerita.







Mansu Kids

7 komentar:

  1. nyaris mirips dengan aku ...
    Hahahaha
    Terjebak di dunia sains.
    Haddeuuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes bikin stress..
      Rumus njelimeeet hahaha..

      Hapus
  2. Balasan
    1. Makasih ayah ardeeen..*kasih duarebuu...
      Haha

      Hapus
  3. Ternyata kita satu angkatan...hehe.. plus setuju sama bang phad, idlan unyu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Tos seangkaataaan...
      Makasih ateu tatat *kasih dua rebu jugaaa, heheheh

      Hapus