Pages

Seminar: Konsep Pandu 45 Based On Talent Mapping

Sesi ke dua dari seminat Talents Mapping Assessment Di Bandung, di isi oleh Ibu Septi Peni Wulandani.

Ini kali kedua saya menghadiri seminar dari ibu hebat ini. Dan Saya (selalu) suka melihat cara Ibu Septi Peni Wulandani bertutur dan menularkan semangat dalam menebar kebaikan.




Seminar bersama beliau, selalu dibuka dengan ice breaking, dan menjadi "hidup". Dibuka dengan beberapa gerakan ringan yang melatih otot serta konsentrasi dengan diiringi lagu "Aku Bisa".
Semangat belajar!

Tentang Ibu Septi Peni Wulandani
Ibu Rumah Tangga Profesional, Ibu dari 3 anak dan sekaligus pelaku homeschooling. Founder Institut Ibu Profesional.

Beliau berasal dari Salatiga, denga. Background pendidikan sebagai Ahli Gizi di Universitas Negeri di Semarang. "Takdir" yang membawa Ibu Septi untuk menemukan passionnya sebagai Ibu Rumah Tangga, Dunia pendidikan dan anak-anak.

Betulkah Kita Salah Jurusan? 
Fakta yang terjadi 87% Mahasiswa indonesia salah jurusan. Dan sepertinya Saya, bagian dari 87% itu :).



Pada Awalnya Ibu Septi (pun) merasakan perasaan salah jurusan. Tapi ternyata takdir yang terjadi semua ada benang merahnya. Fokus pada solusi, dan meningkatkan potensi dominan yang ada pada diri kita. Melaksanakan peran yang diberikan untuk  masing-masing kita. Jadi tidak ada yang salah jurusan.

Setiap anak memiliki potensi keunikan. Bagaimana memunculkan potensi anak: 
1. Cara orang tua berkomunikasi mempengaruhi anak
2. Memberikan kesempatan anak untuk menyatakan pendapat.
3. Fokus pada potensi anak

"Ketika anakmu berbuat salah tegur dan jangan pernah kamu mencatatnya ketika anakmu berbuat baik, puji dan segera catat" (umar bin khatab)


4. Menghargai anak dan keberadaannya

"Anak-anak seperti tumbuhnya sebuah benih, sudah punya fitrah bakatnya, setiap anak dilahirkan dengan BAKAT masing-masing" (Septi peni Wulandani).



"Katakanlah: tiap2 orang berbuat menurut syakillahnya masing-masing. Maka Rabbmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya". (QS. 17:84)
*syakillah= keadaan/potensi

Apa Itu Pandu 45?
Program kegiatan utk memahami bakat anak dengan mengeksplorasi 45 aktivitas potensi kekuatan.
Yang terdiri dari 30 potensi peran dan 15 potensi sifat.



30 Potensi Peran
Lihat penjelasannya di temu bakat Terbagi dalam 8 kelompok: 
A. Interpersonal diatas orang - Rasa
1. Commanding
2. Selling
3. Mediating
4. Sellecting
5. Arranging

B. Interpersonal Sejajar Orang- Rasa
6. Educating
7. Motivating
8. Communicating
9. Representing


C. Interpersonal Dibawah Orang - Rasa
10. Caring 
11. Serving

D. Individual Otak Kanan - Cipta
12. Creating
13. Designing
14. Strategizing
15. Visioning
16. Syntesizing
17. Marketing

5. Individual Otak Kiri Atas -Cipta
18. Analiyzing
19. Finance Accounting

6. Individual Otak Kiri Bawah -Cipta
20. Exploring
21. Evaluating 
22. Restoring

7. Individual Semangat Indoor -Karsa
23. Administering
24. Writing
25. Interpreting

8. Individual Semangat Outdoor -Karsa
26. Operating
27. Distributing
28. Safekeeping
29. Quality Control
30. Producing

15 Potensi Bidang
1. Acting = akting
2. Beautifying = menata kecantikan
3. Visual Art = seni lukis
4. Musical Art = seni musik
5. Singing = menyanyi
6. Modeling = peragaan busana
7. Dancing = seni tari
8. Cooking = memasak
9. Conserving = memelihara lingkungan
10. Manual Speed = kecepatan tangan
11. Manual Detail =kerajinan tangan
12. Physical =keterampilan fisik
13. Planting = bercocok tanam
14. Sport = berolahraga
15. Tending Animal = memelihara binatang


Konsep pandu 45 ini based on Talent mapping-nya Abah Rama, yang sedang di ujicoba oleh Ibu Septi di sekolah Lebah putih milik beliau. Untuk anak-anak di bawah 16 tahun. Untuk menggali potensi anak dapat diobservasi sebagian dari sifatnya. Observasi merupakan cara yang dirasa tepat untuk menggambarkan "peta bakat" yang dimiliki anak.

Dengan pola pendidikan formal yang seragam dan cenderung ke arah "pabrik" rasanya sulit untuk memunculkan potensi keunikan setiap anak. Nah, Mengembalikan fitrah orang tua dalam peran memfasilitasi anak dan bukan memaksakan anak menjadi diri orang tuanya.




Berikut ini urutan observasi bakat berdasarkan usia: 
1. Game Based talent: < 10 tahun mengkerucutkan bakat
2. Based talent : > 10tahun menguatkan peran hidupnya
3. Peran hidup, ketika Usia 12 tahun sudah ketemu bakat.

Selaku orangtua hendaknya membersamai anak-anak dalam aktivitasnya. Mempersiapkan catatan khusus, untuk memantau proses observasi tumbuh kembang, sifat dan potensi bakat anak. Harapannya apabila potensi bakat tersebut sudah diketahui sejak dini, kita sebagai orangtua bisa mengasah sejak dini dan terus mengembangkan potensi peran anak-anak kita.

*note: menyiapkan buku kecil khusus untuk mendokumentasikan ceklis potensi Idlan.

Proses menemukan bakat anak tidak ada yang instan akan tetapi rumus 4-E (Enjoy Easy Excellent Earn) bisa digunakan sebagai panduan observasi.
Potensi seseorang biasanya lebih dari satu jadi ada baiknya digali terus menerus untuk mengetahui tambahan potensi lainnya. Setelah pasti akan potensinya maka tentunya harus terus diasah dan dikembangkan potensinya.

*Note: Lihat binar bahagia anak ketika melakukan aktivitas. Dan selalu siapkan catatan untuk mencatat potensi peran dan potensi bidang. Agar mampu di-evaluasi dan dipantau perkembangannya.


Memahami Gaya Belajar Anak
Untuk mengetahui gaya belajar setiap anak harua di-ujicoba-kan terus. Untuk beberapa anak dicoba dengan metode yang sama dan dalam waktu bersamaan.

Dari ketiga anak Ibu Septi ketiganya memiliki gaya belajar yang berbeda.
1. Gaya belajar Visual
Bisa duduk diam, dan mampu fokus menyelesaikan pekerjaan/kegiatan yang dilakukannya. 
2. Gaya belajar auditori
Relatif tidak bisa duduk diam. ketika di-ujicoba-kan. Metode belajar dengan dibacakan, walaupun anak auditori terlihat selalu bergerak dan tidak fokus. Tetapi mampu menyerap informasi yang dibacakan selama anak tersebut bergerak.
3. Gaya belajar kinestetik
Relatif tidak bisa diam dan susah fokus. Cara belajarnya cenderung harus di dampingi sambil menikmati kesukaannya

*note: eleuh nampaknya idlan tipe kinestetik. Ulaaalaa beeybeeeh *siulsiul galau.


Sesi Tanya Jawab
Tanya
Bagaimana mengatasi anak usia sekolah yang menangis dan menolak ketika mau bersekolah?

Jawab
Indikator anak siap sekolah adalah tidak menangis. Diberikan pilihan kepada orangtua untuk kasus seperti ini, mendampingi anak selama bersekolah sampai anak tersebut siap dan tidak menangis atau menarik anak tersebut dari sekolah, dan menyekolahkan (lagi) secara formal apabila anak tersebut sudah siap bersekolah,

Tanya 
Bagaimana men-jembatan-i observasi mengenai observasi pemetaan bakat anak oleh orangtua terhadap sekolah yang cenderung menyeragamkan peserta didiknya?

Jawab
Sampai saat ini dirasakan konsep sekolah pada umumnya belum sejalan dengan hal ini. Sebetulnya, Homeschooling bukan jawaban dari semuanya. Menjadi PR untuk kita semua.

Tanya
Bagaimana caranya menggali potensi anak-anak yang tinggal di wilayah pegunungan

Jawab
Dalam menggali potensi anak, juga harus dikaitkan dengan potensi dimana kita tinggal. Artinya secara alami memahami kearifan lokal dan bagaimana dia bisa survive hidup dikondisi seperti itu bukan membuat miniatur kondisi yang lain.

Artinya ketika ada di wilayah pegunungan, sumber daya alam yang harus digali, bagaimana caranya bisa survive hidup dan memanfaat potensi daerah.

Acara kemudian dilanjut dengan doorprise dan poto bersama.

Ibu Septi (selalu) berhasil menambah semangat Saya. Saya pribadi melupakan sejenak mencatat isi seminar, saya cukup menyimak pemaparan beliau. Sambil berdoa, semoga saya mampu memperbaiki diri, dan kemudian memfasilitasi pendidikan Idlan dan adik-adiknya (kelak). Berusaha tidak memaksakan kehendak kepada anak, karena tugas orangtua hanya memfasilitasi. Terimaksih  Ibu Septi, semoga ilmunya berkah.

Semoga Alloh mampukan dan mudahkan prosesnya. Ini Cerita Ambu, karena setiap Ibu punya cerita.

::1 Oktober 2016::

Rekomendasi artikel lainnya

5. Ngobrol Asyik Tentang Legalitas Homeschooling Bersama Sabumi


Mansu Kids

6 komentar:

  1. *Ikut nyimak dan mempelajari*. Nuhun catatannya ;)

    BalasHapus
  2. Ambu Ien keren banget catatannya. Nuhun.

    BalasHapus
  3. Subhanallah,,
    Barakallah ambu...
    Jazakillaah dah mjd wasilah pencerahan nyah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wafiik barakaalloh teteeh
      Waiyyak,
      Salam kenal ya 😄

      Hapus