Pages

Workshop pandu 45 Bersama Ibu Septi Peni Wulandani

Bulan Januari beneran bertaburan acara-acara kece. Tinggal pilah-pilih mana yang dibutuhkan dan sesuai budget, sesuaikan saja.

Selalu cinta dengan suami saya yang bersedia meluangkan waktunya ditengah kewajiban di konveksi, momong Idlan. Beliau tau, me time buat istrinya salah satunya adalah sesuatu yang bisa meningkatkan keilmuan dan kepercayaan diri saya dalam aktivitas saya sebagai seorang Ibu. Dan mempercayakan sabtu Idlan bersama Ayah ini adalah hadiah buat saya. Terimakasih Dear Akang 😘😘.



Saya memilih mengikuti Workshop Konsep pandu 45 oleh Ibu Septi Peni Wulandani. Sebetulnya 1 Oktober 2016 lalu  Saya mengikuti seminar konsep pandu 45, hanya saja Saya merasa butuh pemahaman lebih lanjut mengenai konsep pandu 45 dalam membersamai Idlan kecil dan adik-adiknya (kelak).

Awalnya acara direncanakan di ruang serbaguna Balai kota Bandung, tetapi karena peserta yang mendaftar tidak terlalu banyak (di absen peserta tidak lebih dari 35peserta). Maka acara dipindahkan ke Hotel Zodiak yang berada di jl.  Kebon kawung. Seneng sih, karena letaknya tidak terlalu jauh dari rumah tinggal kami.

Acara dimulai sekitar jam 09.00 WIB, acara yang penuh dengan kejutan. Ternyata Workshop tidak hanya diisi oleh Ibu Septi, kejutan dengan kehadiran Pak Dodik Mariyanto (suami Ibu Septi) juga ikut mengisi Workshop. Horeeee 😍😍

Diawal workshop Ibu Septi membuka dengan warming up Ala Ibu, gerakan-gerakan minimalis yang membuat suasana ruangan terasa "hidup". Gerakan menyenangkan dan yel-yel konsep pandu 45. Kemudian Ibu Septi mengintruksikan agar peserta membuat kelompok kecil.

Sesi pertama Workshop pandu 45
Workshop Pandu 45 sesi pertama diisi oleh Pak Dodik Mariyanto. Kalau dengan Ibu Septi ini merupakan kali ke 3 saya bertemu dan belajar langsung dengan beliau, akan tetapi Dengan pak Dodik baru kali ini saya berkesempatan untuk belajar langsung dengan beliau. Sebelumnya saya cuma sering stalking statusnya beliau di Facebook. #upss ketauan deh hehehe 😂.

Beliau menuturkan untuk mengoptimalkan upaya menumbuhkan/ membersamai anak jangan berada didalam zona menitipkan mimpi atau dendam kesumat. Sebagai orangtua berupaya untuk sabar, tidak tergesa-gesa dalam memberi label kepada anak. Label kepada Anak akan mempersempit ruang pencarian jati diri yang seluas-luasnya.

Berproses bersama bukan tergesa-gesa melabeli anak. Orangtua hanya bertugas memberi ruang, teman dan waktu supaya anak dapat berekspresi dan bereksplorasi seluas-luasnya. Kemudian Pak Dodik mengilustrasikan perjalanan untuk menemukan jati diri anak menuju misi penciptaaannya di dunia adalah seperti halnya membuka selapis demi selapis kulit bawang. Selamanya akan terus berproses.

Memberi ruang ekspresi dan eksplorasi seluas-luasnya. Supaya anak mempunyai kesempatan membuat banyak salah. Dengan begitu anak jadi belajar dan jadi banyak tau.

Untuk proses mengamati potensi kekuatan anak 0-9 tahun yang dilakukan adalah bermain. Ya, orangtua membersamai si kecil dalam bermain dan bereksplorasi. orangtua membekali anak dengan adab, iman, akhlak dan bicara. Kemudian anak dianjurkan berteman dengan teman orangtua, karena proses ini juga akan membantu anak dalam mendapatkan menu yang beragam. Mendapatkan sudut pandang dan interaksi yang selain dari orangtuanya.

sesi tanya jawab
1. Bagaimana tentang seorang anak di usia remaja yang sering berbenturan dengan orang tua?
Jawab:
Untuk anak usia remaja >14 tahun diharapkan melakukan hijrah. Tinggal terpisah dari orangtuanya, Artinya dia fokus membangun kebaikannya dengan Membawa keberkahan bagi orangtuanya.
2. Bagaimana untuk anak di usia 13 tahun yang ternyata berbakat menggambar tetapi ketika dianjurkan kursus menolak?
Jawab:
Diharapkan orangtua menyajikan menu sebanyak-banyaknya mengenai bakat menggambar anak tersebut. Melihat tempat kursus, melakukan tour de talent,  dan menyajikan banyak menu yang terkait hal tersebut. Kemudian tawarkan kepada anak untuk kursus. Serahkan keputusan terakhir pada anak.

Sesi ke 2 Workshop Pandu 45
Pandu 45 adalah kegiatan memahami potensi kekuatan anak dengan eksplorasi 45 aktivitas potensi kekuatan berbasis permainan. Terdiri dari 30 potensi peran dan 15 panca indra.

pandu berasal dari asal kata pramuka. yaitu panduan untuk menggenapkan menu agar anak mengetahui aktivitas yang 'gue banget' dan 'bukan gue banget'.

"Ketika anakmu berbuat salah tegur dan jangan pernah kamu mencatatnya, tetapi apabila anakmu berbuat baik, puji dan segera catat" (Umar Bin Khatab) 

tujuan
1. Anak lebih mudah memahami 4E aktivitas (enjoy, easy, excelent, earn).
2. Memberikan wadah bagi anak untuk mengasah potensi kekuatannya.

Fokus pada kelemahan menyiasati kelemahan (Konsep pandu 45)

Orangtua melakukan ceklist potensi kekuatan berdasarkan 45 aktivitas potensi kekuatan yang kemudian dijabarkan lagi dalam 114 aktivitas potensi kekuatan dalam peta bakat. Dari 114 aktivitas potensi kekuatan dipetakan menjadi 8 cluster. Sebelumnya saya pernah menuliskan resume seminar talent mapping assessment, silahkan dibaca 😄.

\
*Contoh ceklist

berikut ini merupakan 8 cluster dalam peta bakat:
untuk lebih mudah mengingatnya S-T-R-E-N-Gi-Te-H

Servicing: Interpersonal Dibawah orang lain
Thinking: Individual - kognitif  - otak kiri atas 
Reasoning: Individual - kognitif - otak kiri atas 
Elementary: Individual - kegiatan di dalam ruangan 
Networking: Interpersonal sejajar orang lain - 
Generating Idea: Individual - kognitif - otak kanan 
Technical: Individual - kegiatan di luar ruangan 
Headman: Interpersonal diatas orang lain

*8 cluster potensi kekuatan dalam talent mapping

Untuk urutan observasi bakat berdasarkan usia:
1. Usia < 4tahun bermain bersama
untuk mengetahui indikator tumbuh kembang anak usia balita bisa dilihat di departemen pendidikan dan kebudayaan.

2. Usia 4 - 9 tahun: Game based talent
mengenalkan anak dengan berbagai macam profesi bisa dilakukan dengan tour de talent.

Tour de talent adalah aktivitas menambah wawasan anak dengan berbagai peran hidup di muka bumi.

Prinsip pelaksanaan tour de talent:

  • Bisa talent yang hadir atau anak dengan didampingi orangtua bertamu.
  • Indikator talent bahagia dan mulia
  • Durasi pendek 1-2jam
  • prasyarat perkuat adab, akhlak, iman dan bicara

3. Usia 9 - 14 tahun: Project Based talent
prinsip pelaksanaan project based talent:

  • sederhana dan menyenangkan
  • mudah dan menantang
  • waktunya singkat kisaran 1 -3 hari
*format sederhana dalam melakukan project based talent

4. Usia > 14 tahun: Project based Learning

*sumber Program Matrikulasi batch #2 IIP

Pada Workshop ini dilakukan simulasi kelompok kecil peserta yang dipandu langsung oleh Ibu Septi, simulasi dalam membersamai dan mengobservasi yang menjadi kekuatan anak.

Simulasi pertama
Bagaimana Orangtua, Ayah dan Ibu, berkomunikasi untuk memahami dan mencatat setiap kekuatan yang dimiliki anaknya. Kemudian Ayah atau Ibu melakukan pemaparan mengenai potensi kekuatan yang dimiliki anak-anak mereka.

Simulasi Kedua
Pada simulasi kedua ini diceritakan orangtua membersamai anak-anaknya bermain. yang berperan sebagai orangtua dalam kelompok kecil berusaha membersamai anak-anaknya bermain dan mencatat yang menjadi kekuatan dari masing-masing anak. Dan yang berperan sebagai anak-anak boleh bermain layaknya anak-anak. setelah simulasi selesai orangtua melakukan pemaparan sederhana dari pengamatan yang dilakukan ketika membersamai anak-anak bermain. wow, Saya yang berperan sebagai anak merasa seperti kembali pada perasaan anak-anak dulu, menyenangkan!

Iya, menjadi orangtua adalah petualangan berproses bersama anak dalam memahami potensi diri anak, harus jeli mencatat kemudian menerima dan memahami yang menurut anak "gue banget".

Sesi tanya jawab
Bagaimana memulai konsep pandu pada usia dini
Jawab
Prinsipnya anak dibawah 4tahun hanya bermain bersama orangtuanya. Untuk imdikator ceklist perkembangan bisa digunakan yang dikeluarkan kemendikbud, menurut ibu Septi imdikatornya sudah cukup lengkap. Size Silahkan di googling apabila dibutuhkan.
*note: cek penjelasan diatas

Sesi ke-3 Workshop Pandu 45
Sesi ke-3 merupakan kolaborasi antara Pak Dodik dn Ibu Septi.

Konsep pandu 45 merupakan bahasa yang dapat kita gunakan untuk mendeskripsikan dan mendiskskusikan perkembangan anak. Sehingga ketika tiba waktunya, anak memahami memilih hidup yang tepat guna menjalankan peran hidup dengan baik dan bahagia.

Proses pengenalan diri, Selapis demi selapis. Pandu 45 bukan untuk melabeli anak, tetapi untuk mencari benang merah.

*Workshop Pandu 45 sesi ke-3

Untuk tes Talent mapping sendiri baru dianjurkan untuk dilakukan pada saat anak usia matang atau sekitar 16 tahun, karena diusia ini di asumsikan anak sudah pernah mendapatkan keragaman aktivitas. Tidak ada tools yang benar-benar mampu dijadikan pegangan bagi orangtua untuk memahami potensi anak-anaknya.

Tidak dianjurkan untuk melakukan tes kemudian melabeli dan membatasi ruang gerak anak. Tes-tes tersebut bukan bertujuan untuk melabeli anak. Menjadikan tools tersebut sebagai alat konfirmasi atas catatan observasi orangtua atau biasa disebut portofolio anak. Dan pada akhirnya menarik benang merah dari proses membersamai dan tumbuh.

Untuk anak usia dini dengan observasi kegiatan yang terdiri dari: 30 potensi peran dan 15 potensi yang terkait panca indra. Bermain bersama anak dan observasi dengan ceklist pandu 45, kemudian mencatat. Catatan tersebut dipergunakan sebagai bahan diskusi bersama anak atau pasangan mengenai potensi kekuatan yang dimiliki anak.

Hasil observasi pandu 45 tersebut menjadi bahasa untuk berdiskusi dengan pasangan atau anak, untuk meningkatkan kemuliaan dan kebahagiaan anak kita serta membawa keberkahan untuk orangtuanya.

Yang perlu diamati itu apa? 
1. Aktivitas berulang
2. Peran yang selalu diambil
3. Perhatikan binar mata

Orangtua menyajikan dan Anak memilih kemudian berkomitmen. Kemudian menerima dan memahami anak dengan baik agar mampu melejitkan potensi kekuatan anak.

*rangkuman secara singkat pandu 45

Kejutan (lagi) di Workshop pandu 45
Acara yang penuh dengan Kejutan, dan di akhir acara ada Mbak Enes, Mbak Ara, dan Mas Elan. Keluarga hebat dengan formasi lengkap, hadir di workshop ini. Horeeeee 😍😍.

*sharing mbak Enes, mbak Ara, Mas Elan

Remaja-remaja hebat ini ikut menuturkan kisah perjalanan mereka memetakan potensi diri. Memahami kekuatan diri, Selapis demi selapis. Menceritakan dibalik layar kehidupan keluarga mereka. Takjub, Masyaalloh!
*semoga kelak keluarga kami juga dimampukan.

Dalam perjalanannya mereka memahami potensi kekuatan diri, memahami setiap tantangan yang mereka temui, untuk menjadi menarik mereka selalu menggunkan frase:
1. Mengapa
2. Bagaimana jika
3. Mengapa tidak

Saya pribadi memang tidak banyak mencatat di workshop ini. Betul-betul menikmati dan menangkap rasa yang dialirkan Ibu septi dan keluarga. Membuat saya bersemangat dan percaya diri.

Diakhir acara membagikan sertifikat workshop dengan salaman khas pandu 45. Kemudian ditutup acara poto bersama.

*Alhamdulillah bisa poto :)

Dan Alhamdulillah setelah acara poto bersama, saya bisa curhat sedikit dengan Ibu Septi mengenai tumbuh kembang Idlan kecil. Sedikit hiperaktif dan kemampuan olah katanya belum terlalu baik. Ibu menyemangati saya, tipe yang sedikit mirip Elan. Nasehat Ibu, Saya harus fit dalam membersamai Idlan kecil. Sabar dan yakinlah,  anak dengan karakter demikian memiliki "taji" dan caring. Iya idlan memang detil dan perhatian sekali pada saya bahkan melebihi perhatian Ayahnya 😂.

Dan saya (akhirnya) Saya bisa foto berdua Ibu. Aku padamu ibu <3.

Jazakillah khoyr Ibu dan keluarga. Semoga keberkahan terlimpah atas Ibu dan keluarga. Terimakasih 😘.

Karena setiap Ibu punya cerita. Semoga Alloh mampukan mansu family untuk berproses bersama menuju perbaikan diri.
Aamiin

:: Bandung, 21 Januari 2017::

#AmbuBelajar
#mansufamilystories


Rekomendasi artikel lainnya

5. Ngobrol Asyik Tentang Legalitas Homeschooling Bersama Sabumi

Mansu Kids

Tidak ada komentar:

Posting Komentar