Pages

Melatih Kemandirian Rasa Campur-campur

One week one skil (Owos) menjadi tantangan di kelas bunda sayang Bab melatih kemandirian.  Sejujurnya Saya, Saya sendiri saya sendiri sadar, saya sedang berproses untuk menjadi mandiri. Menuntut kemandirian yang amat sangat pada Idlan? Rasa, malu aku malu pada semut merah yang berbaris di dinding πŸŽΌπŸŽ§πŸŽ€.

Idlan memiliki bahasa cinta  pelayanan, ulasanya pernah saya ceritakan di membahasakan membahasakan cara mencintai. Orang yang memiliki sikap dominan ini memang terkesan manja *sambil ngaca. Sampai sekarang kalau ada kesempatan Saya masih suka disuapin Ibu 😁. Bertahap sejak menikah dengan Akang Saya pun berproses. Menurut Saya pribadi berproses menuju lebih mandiri. Walaupun beberapa masih manja dan tergantung sama Akang. 

Hal yang paling merasa Saya tergantung sama Akang menurut Saya adalah keterampilan Saya menggunakan kendaraan. Ini menjadi list untuk latihan kemandirian Saya. Untuk Idlan Secar bertahap ceklist Indikator kemandirian saya buat. Dan semoga kami Istiqomah terus menerus berproses menjadi lebih terampil dan akhirnya menjadi mandiri.

Latihan pertama untuk owos untuk Idlan di 7hari pertama ini adalah adalah kemampuan berpakaian. Sambil Saya menerapkan tentang peraturan berbicara, "Hanya yang bicara baik yang di dengarkan". Dalam fase 7 hari owos ini, hasilnya alhamdulillah. Idlan yang selalu bergerak ketika abis mandi dan membutuhkan energi ekstra untuk membuatnya diam sejenak dan fokus menggunakan pakaiannya, itu membuat Ambu *lap keringet,  sabaar ambu sabaaaaar. Kadang rasanya Ambu sudah keluar taring. 

Terharu ketika Idlan mau mendengarkan aba-aba Ambu untuk menggunakan pakaiannya. Terharu ketika Idlan mau menunggu sedikit lama untuk mengungkapkan keinginannya ketika Saya sedang memasak. 

Tantangan sebetulnya adalah pada kekonsistenan Ayah dan Ambu serta orang-orang di sekitar kami. Menjadi dilematis ketika kami di konveksi dan selesai pipis nenek sudah bersiap membantu Idlan menggunakan celananya kembali πŸ˜•. yaah, kecolongan sih sekali, Saya ekstra hati-hati mengingatkan Nenek Idlan. 

Mengantisipasi Ayahnya (lupa) dan membantu idlan menggunakan pakaian. Selama Owos dress up skill Akang libur bertugas memandikan  Idlan di pagi hari. Jadi selama praktek owos dress up skill ini, full yang mandiin Idlan ya Ambu.

Konsisten selama sepuluh hari menyetorkan link tugas melatih kemandirian ini dan akhirnya dinyatakan lulus. (Lagi-lagi) membuat saya malu. Rasanya saya belum pantas mendapatkan badge "YES I CAN".  Dalam setiap setoran tugas kok rasanya banyakan curhatnya.

Sebetulnya proses curhat ini di games level 1 (baca: komunikasi produktif)  yang lalu merupakan proses self healing saya, untuk berkomunikasi pada diri sendiri dan menyelesaikan konflik batin (baca: muhasabah diri). Ah terimakasih tim fasilitator kelas Bunda sayang, Aku pada kalian <3.  Tetapi di games ini entah mengapa saya merasa 'asal' mengumpulkan tugasnya, ada perasaan tergesa-gesa

Rasanya jadi Gado-gado: banyak malunya sudah memdapatian badge, ada terharunya saat Idlan bertahap berusaha mandiri, ada tertantangnya dengan ceklis kemandirian yang lain yang sudah saya tuliskan di lembar exel. berproses untuk lepas dari tergesa-gesa. Fokus pada keunikan keluarga mansu family,  sudah itu saja. 

Sabar Ambu! Mie Instan juga butuh riset yang panjang, sampai bisa jadi mie instan dan beredar di pasar.

*Aha moment melatih kemandirian makan

Fokus Pada keunikan Idlan Kecil, stok sabar yang banyak, menjaga notasi suara, dan banyak tersenyum. Tidak terpaku pada ceklis kemandirian secara berurutan tidak mengapa, lebih peka pada "aha" momment untuk melatih kemandirian. 


*ini badge yang saya dapatkan (malu Sama diri sendiri)


Tertatih tapi saya berusaha, Semoga Alloh mudahkan prosesnya. 
Ini cerita Ambu karena setiap Ibu punya cerita. 




Mansu Kids

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar